Rabu, 09 Juni 2010

PENDIDIKAN DI INDONESIA: Strategi Pembelajaran Yang Menyenangkan

STRATEGI PEMBELAJARAN MENCIPTAKAN SUASANA KELAS YANG MENYENANGKAN

A. Peran Emosi Dalam Belajar
Memperhatikan emosi mahasiswa dapat membantu dosen mempercepat proses dan aktivitas pembelajaran. Memahami emosi mahasiswa juga dapat membuat pembelajaran lebih bermakna dan permanen. Pengalaman seseorang sewaktu kuliah menunjukkan bahwa dosen yang disukai adalah dosen yang mampu menciptakan dalam dirinya suatu ikatan emosional terhadap belajar, yang “mematri” mata kuliah tersebut dalam ingatannya.
Penelitian tentang otak semakin menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan emosi, memori jangka panjang, dan belajar. Peneliti dan psikolog kognitif, Dr. Daniel Goleman menjelaskan:
Dalam tarian perasaan dan pikiran, kekuatan emosi menuntun keputusan kita saat demi saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional, mengaktifkan atau menonaktifkan pikiran itu sendiri. Boleh dibilang, kita mempunyai dua otak, dua pikiran dan dua jenis kecerdasan: rasional dan emosional. Bagaimana kita berkiprah dalam hidup (dan belajar) ditentukan oleh keduanya-bukan hanya IQ, melainkan kecerdasan emosional juga berperan. Tentu saja, intelek tidak dapat bekerja pada puncaknya tanpa kecerdasan emosional.
Beberapa penelitian lain menunjukkan, bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk "merekatkan" pelajaran ke dalam ingatan. Ketika otak menerima ancaman atau tekanan, kapasitas saraf untuk berpikir rasional mengecil. Otak dibajak secara emosional menjadi mode “bertempur atau kabur” dan beroperasi pada tingkat bertahan hidup. Ketersediaan hubungan dan kegiatan saraf benar-benar berkurang atau sangat mengecil dalam situasi ini, dan otak tidak dapat mengakses Higher Order Thinking Skills (HOTS), Keterampilan Berpikir Orde Tinggi. Fenomena ini, dikenal sebagai downshifting, merupakan tanggapan psikologis, dan dapat menghentikan proses belajar saat itu dan setelah itu. Saat itu kemampuan belajar mahasiswa benar-benar berkurang.
Untungnya, otak dapat juga melakukan hal sebaliknya. Dengan tekanan positif atau suportif, dikenal sebagai eustress, otak dapat terlibat secara emosional, dan memungkinkan kegiatan saraf maksimal. Mihaly Csikszentmihalyi adalah psikolog dari Universitas Chicago yang dikenal karena penelitiannya dalam mendokumentasikan suatu keadaan flow, yang dia definisikan sebagai "keadaan di mana seseorang sangat terlibat dalam sebuah kegiatan sehingga hal lain seakan tak berarti lagi". Dia menggambarkan hubungan antara eustress dan flow sebagai berikut:
Orang agaknya dapat berkonsentrasi paling baik saat mereka sedikit lebih dituntut daripada biasanya, dan mereka dapat memberikan lebih dari biasanya. Jika tuntutan terlalu sedikit, orang akan menjadi bosan. jika tuntutan terlalu besar untuk diatasi, mereka akan menjadi cemas. Flow terjadi di daerah genting antara kebosanan dan kecemasan.
Psikolog dan peneliti dari Harvard, Howard Gardner, dikenal karena telah mengembangkan teori kecerdasan berganda, berpendapat mengenai flow sebagai berikut:
Kita harus menggunakan keadaan positif anak untuk menarik mereka ke dalam pembelajaran di bidang-bidang di mana mereka dapat mengembangkan kompetensi... Flow adalah keadaan internal yang menandakan bahwa seorang anak mengerjakan tugas yang tepat. Anda harus menemukan sesuatu yang Anda sukai, lalu tekunilah. Di sekolah, saat anak merasa bosan, mereka akan berontak dan berulah. Jika mereka dibanjiri tantangan, mereka akan mencemaskan pekerjaan sekolah. Tetapi, Anda akan belajar dengan segenap kemampuan jika Anda menyukai hal yang Anda pelajari dan Anda senang jika terlibat dalam hal tersebut.
Kuncinya adalah membangun ikatan emosional tersebut, yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan segala ancaman dari suasana belajar. Beberapa studi menunjukkan bahwa mahasiswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang, dan ramah serta mereka mempunyai suara dalam pembuatan keputusan. Dengan kondisi seperti itu, para mahasiswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran. Hal ini meningkatkan hubungan dan kepercayaan dalam pengajaran. Dengan adanya korelasi langsung antara keterlibatan emosi dan prestasi belajar mahasiswa, keterlibatan emosi kini bukan lagi sekadar gagasan muluk yang menyenangkan hati orang.
Di samping memastikan agar mahasiswa lebih banyak belajar dan terlibat, ikatan emosional juga sangat mempengaruhi memori dan ingatan mereka akan bahan-bahan yang dipelajari. Ilmuwan saraf, Dr. Joseph LeDoux, mengemukakan bahwa amigdala, pusat emosi otak, memainkan peran besar dalam penyimpanan memori.
... perangsangan amigdala agaknya lebih kuat mematrikan kejadian dengan perangsangan emosional dalam memori .... Karena itulah kita lebih mudah mengingat, misalnya tempat kencan pertama kita, atau apa yang sedang kita lakukan saat mendengar berita bahwa pesawat ulang-alik Challenger meledak. Semakin kuat rangsangan amigdala, semakin kuat pula pematrian dalam memori.

B. Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian
Untuk menarik keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran, dosen hendaknya membangun hubungan, yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan yang lebih bergairah, membuka jalan memasuki dan memahami dunia mereka, mengetahui minat, berbagi kesuksesan, dan berbicara dengan bahasa mereka. Membina hubungan bisa memudahkan dosen melibatkan mahasiswa dalam pembelajaran, memudahkan pengelolaan kelas, memperpanjang waktu fokus, dan meningkatkan kegembiraan. Ingatlah: sejauh kita memasuki dunia mahasiswa, sejauh itu pula pengaruh yang kita miliki di dalam kehidupan mereka.
Quantum Teaching menyarankan bahwa dari hari pertama, seorang dosen hendaknya mulai mengenal para mahasiswanya dan membina hubungan dengan mereka. Hal ini merupakan bagian dari menciptakan suasana yang terbuka dan efektif. Membuka komunikasi untuk kemitraan adalah hal yang sama-sama menguntungkan bagi dosen dan mahasiswa. Komunikasi terbuka akan membuat dosen dapat berbicara dengan jujur, tanpa membuat mahasiswa bersikap defensif. Jika seorang dosen berinteraksi dengan mahasiswa dengan pandangan positif, maka ia dapat berbicara langsung kepada mereka tentang hal yang terpenting: siapa diri mereka dan bagaimana mereka menampilkan diri.
C. Keriangan dan Ketakjuban
Jika seorang dosen secara sadar menciptakan kesempatan untuk membawa kegembiraan ke dalam pekerjaan dan profesinya, maka kegiatan mengajar dan belajar akan lebih menyenangkan. Kegembiraan membuat mahasiswa siap belajar dengan lebih mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif.
Editing ................
Ingatkah perasaan yang dialami setiap orang ketika pertama kali mencoba bersepeda tanpa roda-roda bantuan? Asyik dan menyenangkan. Momen tersebut merupakan contoh belajar yang menggembirakan yang begitu sering terjadi dalam masa kanak-kanak kita. Waktu itu setiap anak adalah mesin belajar. Mereka berkembang akibat adanya unsur-unsur dalam proses belajar manusia: unsur-unsur yang menciptakan keriangan, ketakjuban dan kegembiraan.
Sayangnya, pada titik tertentu (biasanya di sekolah) perasaan gembira tersebut terputus dari belajar, dan belajar menjadi pengalarnan yang datar. Suatu saat di SMP (ketika seorang siswa "dipersiapkan" untuk belajar keras di SMA) dia mulai dibebani oleh "kerja keras" dan "bersikap serius" dalam situasi belajar di sekolah.
"Dengarkan perintah, jangan berbicara sampai diminta, duduk di tempat, jangan mengobrol ..." semua itu tampak berlawanan dengan belajar yang sebenarnya: ketakjuban, penemuan, permainan, menanyakan sejuta pertanyaan, terlibat di dalamnya dan kegembiraan.
Kita yakin, masih belum terlambat untuk membalikkan situasi ini dan mengembalikan seruan gembira ke dalarn suasana belajar. Bagi banyak mahasiswa, sudah cukup lama belajar menjadi hal yang membosankan. Ruang kuliah tidak banyak mencuatkan kegembiraan menatap masa depan, suasana kelas yang membosankan, dan dosen-dosen yang tidak kreatif.
Dalam The Laughing Classroom, Loomans dan Kolberg menulis:
Mungkinkah sebagian masalah disiplin dewasa ini bersumber dari pendekatan terhadap proses belajar yang serius dan ketat? Seringnya, badut kelas atau mahasiswa pengganggu dianggap dosen sebagai masalah disiplin terbesar di kelas. Padahal, si pemberontak dan si badut mempunyai kesamaan yang jelas: Mereka menolak menyerah kepada kebosanan belajar tanpa spontanitas dan tawa. Kebanyakan ulah mereka muncul akibat hasrat bawaan untuk adanya humor dan stimulasi di kelas.
...... Jika kelas merupakan lingkungan yang hidup, kreatif, dan penuh tawa, maka murid dari segala usia memiliki saluran keluar alamiah di mana keingintahuan mereka berkembang.

Pertimbangkan tiga cara berikut untuk menyuntikkan lebih banyak kegembiraan dalam pengajaran:
1. Afirmasi (penguatan atau penegasan)
2. Pengakuan
3. Perayaan
Pertama, gunakan afirmasi sebagai cara ampuh untuk menambahkan lebih banyak kegembiraan dan untuk menggapai suara di dalam benak Anda. Suara ini, yang juga dikenal sebagai dialog internal, bertugas sebagai cerminan nilai-nilai dan keyakinan kita dan berpengaruh kuat pada pengalaman kita di dunia setiap saat. Suara-suara di dalam benak para mahasiswa berbicara tanpa henti sepanjang dosen mengajar. Suara tersebut adalah hal wajar bagi manusia biasa, tetapi kita sering mengajar dengan melewatinya, bahkan mengabaikannya. Karena suara itu berbicara terus, pertanyaan yang sewajarnya timbul, adalah, "Apakah suara kecil tersebut mendukung, menyela, atau menghalangi belajar?"
Dengan sedikit perencanaan, dosen dapat menggunakan saran positif dan afirmasi diri untuk mempengaruhi pembangunan identitas mahasiswa menjadi hal yang positif dan mendukung mereka dan proses belajarnya.
Kedua, semua orang senang diakui. Menerima pengakuan membuat kita merasa bangga, percaya diri, dan bahagia. Penelitian mendukung konsep bahwa kemampuan mahasiswa meningkat karena pengakuan dosen. Dalam kajian Gordon Wells mengenai bahasa belajar anak-anak, dia mencatat:
Jika anak-anak diharapkan melakukan transisi dengan mudah dan percaya diri, mereka haruslah mengalami lingkungan baru sekolah sebagai sesuatu yang menggairahkan dan menantang. Dalam lingkungan ini, sebagian besar usaha mereka harus berhasil dan mereka harus diakui sebagai diri mereka dan apa yang dapat mereka lakukan.
.... Anak-anak yang merasa, atau dibuat merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan lambat memulihkan rasa percaya diri dan, akibatnya kemampuan mereka untuk memanfaatkan kesempatan belajar diperbesar yang disediakan sekolah tersebut bahkan mungkin berkurang, dalam kasus ekstrem, rusak dan tidak dapat lagi diperbaiki.

Untuk mendapatkan hasil terbaik dengan mahasiswa, akuilah setiap usaha, tidak hanya usaha yang tepat. Sebagai dosen, kita lebih banyak mengakui ketepatan daripada proses belajar perseorangan. Mengapa? Sebab sebagai dosen, kita membaktikan sebagian besar waktu kita di tempat yang disebut "mengetahui". Kita tahu apa yang kita ketahui. Kita tahu bahan ajaran kita, kita tahu apa yang diketahui mahasiswa kita, apa yang harus diketahui mereka, dan apa yang akan mereka ketahui. Kita digaji untuk mengetahui. Akibatnya, apa yang kita akui dari para mahasiswa kita? Apa yang mereka ketahui.
Dilema muncul karena para mahasiswa, dalam proses mencapai tempat yang disebut "Aku tahu!", menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah tempat berbeda yang disebut: belajar. Belajar adalah tempat yang mengalir, dinamis, penuh risiko, dan menggairahkan. Belum ada "aku tahu" di sana. Kesalahan, kreativitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat tersebut.
Di sini ada ketidakcocokan. Mahasiswa melakukan apa yang dikehendaki dosen, mereka mencoba belajar. Sayangnya, mereka tidak diakui untuk hal tersebut. Hanya setelah mereka tahu, barulah mereka dipuji. Mulailah mengakui bagian yang benar-benar penting: belajar.
Ketiga, merayakan kerja keras. Mengadakan perayaan bagi mahasiswa akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri. Perayaan akan mengajarkan kepada mereka mengenai motivasi hakiki tanpa “insentif”. Mahasiswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekadar mencapai nilai tertentu.
Dalam ilustrasi berikut, anggaplah Anda sedang menonton pertandingan sepak bola yang seru. Tim, yang bertanding menggiring bola ke sana-kemari. Satu tim menjaringkan gol, lalu disusul tim lawan, lalu tim yang pertama membuat gol lagi. Saat tekanan mulai meningkat, Anda memperhatikan kedua tim itu dan melihat bahwa untuk setiap operan sempurna, setiap penguasaan lapangan, setiap gol, para pemain merayakannya dengan membabi-buta; mereka menari, berteriak-teriak, saling menepuk punggung, saling peluk. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa setiap langkah itu amat berarti. Yang membawa kita kepada satu lagi prinsip Quantum Teaching: “jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan!”
Para pemain tersebut (sebenarnya, pemain tim kejuaraan apa pun) tahu bahwa setiap kesuksesan, setiap langkah menuju kemenangan akan memacu mereka jika langkah itu ditambatkan pada perayaan. Jadi, mereka mengakhiri setiap kesuksesan dengan perayaan, menegaskan atau menambatkan keadaan prestasi puncak. Pujian yang mereka dapatkan akan mendorong mereka tetap dalam keadaan prima. Kemudian, jika di lain waktu seorang pemain menghadapi tantangan permainan yang berat, asosiasi positif perayaan akan mendorongnya maju.
Biasanya pada saat kita mencapai sesuatu, kita hanya melanjutkan ke kegiatan selanjutnya, tanpa menciptakan daya pendorong istimewa untuk mengulang keberhasilan itu. Sebagai dosen, Anda layak menanamkan bibit kesuksesan, dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan. Mengapa? Karena perayaan membangun keinginan untuk sukses. Jadi, rayakanlah sering-sering.
Di bawah ini beberapa bentuk perayaan menyenangkan yang biasa digunakan:
 Tepuk tangan: Teknik ini terbukti tidak pemah gagal memberikan inspirasi. Cobalah variasi tepuk tangan, misalnya bertepuk tangan membentuk lingkaran.
 Hore! Hore! Hore!: Jika diberi aba-aba, semua orang melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin, "Hore, Hore, Hore!" sambil mengayunkan tangan ke depan dan ke atas. Cara ini mengasyikkan sekali jika dilakukan "bergelombang" ke seluruh ruangan.
 Wussss: Jika diberi aba-aba, semua orang bertepuk tangan tiga kali secara serentak, lalu mengirimkan segenap energi positif mereka kepada orang yang dituju. Cara melakukannya adalah setelah bertepuk, tangan mendorong ke arah orang tersebut sambil berteriak "Wusss".
 Jentikan Jari: Jika Anda memerlukan pengakuan yang tenang, daripada tepuk tangan, gunakan jentikan jari berkesinam-bungan.
 Poster Umum: Mengakui individu atau, seluruh kelas, misalnya "Kelas Tiga Ngetop!"
 Catatan Pribadi: Sampaikan kepada siswa secara perseorangan untuk mengakui usaha keras, sumbangan pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.
 Persekongkolan: Mengakui seseorang secara tak terduga. Misalnya, seluruh kelas Anda dapat bersekongkol untuk mengakui kelas lain (misalkan kelas Ibu Broto) dengan cara. memasang poster positif (atau surat) misterius yang bertuliskan hal-hal seperti, "Kelas Bu Broto hebat lho!" atau "Selamat menempuh ujian hari ini, kami mendukung kalian!" Bersekongkol untuk staf pemelihara dan kantin juga merupakan ide yang bagus.
 Kejutan: Misalnya, makanan, tak ada pekerjaan rumah, santai sepanjang pelajaran. Tetapi, pastikan kejutan ini terjadi secara acak. Jangan membuat kejutan ini sebagai hadiah yang mulai diharapkan siswa. Jadikan kejutan tetap sebagai kejutan!
 Pengakuan Kekuatan: Lakukan jika Anda menginginkan setiap orang mendapatkan pengakuan, setelah mereka saling mengenal dengan baik. Atur siswa untuk duduk membentuk tapal kuda, dengan satu kursi (kursi jempol) di bagian terbuka tapal. Setiap orang bergiliran menduduki kursi jempol. Siswa pada kursi jempol tersebut duduk diam sambil mendengarkan dan memperhatikan. Setiap siswa dalam tapal mengakui kekuatan istimewa atau sifat-sifat baik dari siswa yang duduk di kursi jempol. Guru dapat memberikan contoh hingga murid-murid tahu cara melanjutkannya. Setelah belajar keras, cobalah salah satu dari yang berikut ini:
 "Katakan kepada teman sebangku ..." Mintalah setiap murid berkata kepada teman sebangkunya, "Kamu pintar sekali menggambar!" (atau apa pun yang sesuai dengan yang hal baru saja dipelajari atau diperagakan.)
 Pujian kepada Teman Sebangku: Gunakan untuk mengakui seluruh kelompok dan tim, merayakan pekerjaan yang selesai dengan baik sebagai mitra atau kelas.
 Pernyataan Afirmasi: Lakukan oleh seluruh kelas sebagai perayaan proses belajar. Cobalah, "Kita mengerti," "Kita berhasil." "Akan segera kita kerjakan," dan "Begitu dong kalau berpikir!"
D. Ketakjuban
Kapan terakhir Anda memperhatikan seorang bayi secara sungguh-sungguh? Kebanyakan orang dewasa, jika mereka benar-benar memperhatikan biasanya berkata, "Wow." Ini adalah pernyataan senang, heran dan bercampur takjub.
Bayi adalah mesin takjub. Bagi mereka, setiap jengkal kotak pembungkus hadiah ulang tahun mereka sama menariknya dengan hadiah itu sendiri, dan kotak itu dapat mempersona mereka berjam-jam. Mata membelalak dan jemari merenggut kertas berwarna cerah itu, menyobeknya cepat-cepat. Dengan menarik, membongkar, dan mengguncang, dia menguji apa isinya. Dengan memasukkannya ke dalam mulut, dia mencoba apakah benda itu dapat dimakan. Dengan mengutak-atik tutupnya, dia belajar cara membuka dan menutup kotak dengan cara coba-coba. Dia mungkin menemukan cara menjatuhkan mainan ke dalam kotak, lalu menumpahkannya ke luar. Berulang-ulang dia mencoba permainan itu, mempelajari segala sesuatu tentang benda barunya yang mempersonakan itu.
Alat belajar asli setiap orang adalah ketakjuban. Selagi kecil, kita mengumbar kejeniusan kita dengan bebas. Setiap hari saat kita menjelajahi semesta kita, setiap sela, celah, alat, lubang, dan benda. Pada dasarnya, kita adalah mesin belajar, berkecimpung sepenuhnya sampai seseorang berkata, "Tidak." Lalu mekanisme ketakjuban yang alami dan berjalan sendiri itu melambat, dan orang lain mulai mempengaruhi proses belajar alami tersebut. Ketika seorang anak masuk sekolah, alat belajar ampuh yang disebut ketakjuban tersebut dibungkam sekali lagi dengan jawaban salah dan benar. Guru memaksakan kepada siswanya metode "bagaimana" mempelajari segala sesuatu, yang banyak bertentangan dengan belajar di kehidupan nyata.
Kita dapat mengembalikan ketakjuban ke dalam pengajaran dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang kreatif, yang mengupas lebih dari sekadar jawaban "benar", dan menjawab pertanyaan dengan lebih banyak pertanyaan. Kita dapat dengan lembut menuntun siswa kembali pada peranan sejati mereka sebagai pelajar, bukan hanya sebagai orang yang tahu. Memasukkan ketakjuban dan penjelajahan ke dalam belajar akan kembali membebaskan sang jenius, menambahkan arti lebih pada belajar jika belajar diawali dan dicari melalui ketakjuban, penjelajahan, dan pertanyaan.
E. Pengambilan Risiko
Saat memasukkan unsur risiko ke dalam situasi belajar, berarti dosen membangkitkan kesukaan bertualang alami dari mahasiswa. Hal ini akan membawa mereka melampaui batas mereka sebelumnya, dan menambah dampak pengalaman mereka. Sebagian mereka menjadi pelajar yang baik dengan menjadi pengambil risiko yang berani.
Lebih dari yang mereka ketahui, anak-anak kita menghabiskan waktu setiap harinya mengambil risiko. Mereka mengobrol dengan orang yang baru kenal, masuk ke kantin sambil bertanya-tanya siapa yang akan duduk bersamanya, dan semakin lama menjadi semakin percaya diri.
Dalam keadaan normal, kita semua hidup di sebuah Zona Nyaman (ZN). Di dalamnya kita memiliki semua hal yang membuat kita merasa nyaman: kegiatan tertentu, masyarakat, makanan, tempat, dan tata krama. Sebagai contoh, mengajar dengan gaya tertentu barangkali berada dalam ZN Anda, sementara mencoba beberapa strategi dan teknik pembelajaran model baru berada di luamya. Kita semua suka tinggal di dalam ZN kita karena hal itu mudah, akrab, dan memang nyaman. Segala sesuatu di luar itu tampak berbahaya, goyah, dan terlalu riskan.
Tetapi, sebagaimana apa pun yang terlalu nyaman, ZN kita dapat terasa membosankan dan mandek. Jika kita berada di dalamnya terlalu lama, risikonya adalah kita akan melekat pada rutinitas yang monoton. Jadi, kita mengadu untung ke batas ZN kita dan mengintip keluar. Di sana ada hal baru yang menunggu kita. Bisikan nurani kita mungkin mengatakan, "Jangan keluar! Tinggallah di sini dalam kenyamanan." Tapi kita tahu kita harus mencoba. Meskipun perubahan membuat kita merasa janggal dan goyah, kita coba juga, dengan risiko menerima ketidaknyamanan. Kita tahu bahwa ketidaknyamanan itu akan hilang pada akhirnya. Dan memang, saat kita mencobanya, segala sesuatu yang tadinya tampak begitu jauh dari ZN kita itu menjadi mudah dan ini berarti ZN kita telah bertambah luas. Pengalaman kecil tersebut menunjukkan proses belajar.
Ingatlah selalu: belajar itu mengandung risiko. Setiap kali kita bertualang untuk belajar sesuatu yang baru, kita mengambil risiko besar di luar zona nyaman kita.
Setiap kali kita meminta mahasiswa mencoba sesuatu yang baru untuk pertama kalinya, kita meminta mereka mengambil langkah yang menakutkan, keluar dari zona nyaman, untuk dengan berani berubah dari seorang yang tahu menjadi seorang pelajar, dan itu membutuhkan keberanian. Pengambilan risiko menjaga otak tetap bergerak, dan dapat terasa menggembirakan jika kita menciptakan suasana risiko aman, penuh dukungan dan dorongan untuk melakukannya. Pengambilan risiko membawa unsur tantangan dan "pasti bisa" ke dalam ruang kelas, dan menciptakan lingkungan di mana mahasiswa membawa diri mereka melampaui apa yang mereka rasa mampu.
Untuk memberdayakan mahasiswa melangkah keluar ZN, pertama-tama mulailah memberi teladan. Dosen dapat memulai dengan hal sederhana, misalnya mencoba ide pengajaran baru dari buku ini. Ceritakan apa yang akan dilakukan kepada para mahasiswa.
"Saudara-saudara, menurut Bapak, kegiatan berikut ini pasti menyenangkan buat kita semua. Bapak baru pertama kali ini mencobanya, makanya Bapak merasa sedikit gugup. Mari kita jelajahi bersama.”

Mahasiswa tentu akan menyambut kesempatan itu. Pastikan mereka melihat Anda sendiri menempuh proses itu, ketika Anda mengajak mereka mengambil risiko. Kemudian, ceritakanlah Zona Nyaman itu kepada mahasiswa. Beri tahu mereka bahwa Anda juga akan keluar dari ZN, dan bahwa belajar dan meraih prestasi sama dengan keluar dari zona nyaman tersebut. Anggaplah hal ini sebagai latihan untuk Olimpiade. Duduk di sofa menonton televisi memang lebih mudah daripada berlari dan mengangkat beban. Tetapi, untuk mendapatkan medali emas, atlet harus bangun dari sofa dan berlatih.
Ingat lagi pengalaman saat pertama kali kita menyadari bahwa roda bantuan sudah tak lagi menempel pada sepeda kita. Memang menakutkan, tetapi begitu kita menyadari bahwa kita tetap bisa bertahan seimbang di atas sepeda, maka yang ada hanyalah kesenangan, kegembiraan dan keasyikan.
F. Rasa Saling Memiliki
Membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab pelajar. Kecuali beberapa orang, semua mahasiswa ingin merasa saling memiliki. Dengan mengasah perasaan mereka untuk saling memiliki, Anda memberi kekompakan dan kepaduan kepada suasana kelas dan dengan nyata mempercepat proses mengajar Anda maupun belajar mereka.
Jika kita memperhatikan tim-tim berprestasi, ada satu hal yang sama-sama dipunyai setiap pemain: rasa saling memiliki. Rasa saling memiliki ini membuat para pemain merasa mereka menambah nilai bagi timnya, mereka menyumbang. Mereka merasa berdaya dan diterima apa adanya. Jika seorang dosen membangun rasa saling memiliki ini, dia juga menyingkirkan ancaman, mengizinkan otak dan pikiran mahasiswa untuk bersantai, emosi mereka untuk terlibat, dan proses belajar untuk memuncak. Rasa saling memiliki menciptakan rasa kebersamaan, kesatuan, kesepakatan, dan dukungan dalam belajar. Rasa ini juga mempercepat proses mengajar dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa.
Rasa saling memiliki sejati (kepaduan tim) membuat orang merasa berdaya untuk keluar dan mempertaruhkan zona nyaman mereka demi sukses dan belajar. Rasa ini juga dapat menciptakan bahasa dukungan dan standar memperlakukan satu sama lain dengan hormat.
G. Menciptakan Tradisi: Menumbuhkan Rasa Saling Memiliki
Ketika Chicago Bulls berlari memasuki lapangan basket, lampu-lampu dipadamkan, musik menggema, lampu spot menyala, dan ritual dimulai: para pemain berkeliling lapangan, saling menepukkan tangan, dan sambil bersorak dan bernyanyi, tim itu pun berbaris masuk. Anda tidak akan pemah melibat mereka berjalan luntang-lantung ke lapangan dan berkata, "Oke deh, kita mulai saja."
Setiap tim kejuaraan olahraga memulai, mengakhiri, dan menerapkan dalam setiap latihan dan penampilannya dengan suatu tradisi yang menyatukan tim dan menguatkan kesuksesan dan keefektifan mereka. Pada tempat yang berbeda, yakni di ruang kuliah, seorang dosen dapat melakukan hal yang sama untuk menguatkan kesuksesan dan keefektifan belajar. Dosen dapat membuat para mahasiswa terfokus.
Dalam menata suasana pembelajaran, Quantum Teaching menciptakan tradisi pada awal-awal belajar untuk membangkitkan rasa keteraturan, keterdugaan, dan keseimbangan, serta untuk mengurangi ancaman dan stres. Tradisi menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai dan rasa kesepakatan. Tradisi juga memuaskan bagian otak yang sangat membutuhkan rutinitas, tetapi dengan cara menyenangkan dan riang.
Perlu diketahui, bahwa otak ternyata menyukai proses belajar yang memiliki awal yang jelas dan akhir yang jelas. Awal dan akhir yang jelas membantu otak membedakan, memproses, dan mengingat pengalaman dan informasi dalam segmen yang mudah dicerna. Tetapi, seringnya, satu-satunya awal dan akhir yang jelas dari pengajaran kita adalah suara bel di awal dan di akhir jam pelajaran. Bagi otak dan pikiran para pelajar, segala sesuatu di antara kedua bunyi bel itu menjadi kabur dalam satu gumpalan belajar dan pengalaman, sekalipun dosen telah mengajarkan beberapa bagian pelajaran yang berbeda dalam kurun waktu tersebut. Jika dosen memuaskan kebutuhan otak akan awal dan akhir yang jelas, maka otak akan bersantai karena struktur dan rutinitasnya ada.
Awal dan akhir yang jelas dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam belajar sebagai tradisi. Pengakuan yang dipelajari di bagian awal bab ini akan mudah menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu mahasiswa. Tradisi yang paling bagus adalah tradisi yang diciptakan bersama oleh dosen dan mahasiswa. Tradisi akan membuahkan kebanggaan, kebersamaan, dan kegembiraan dalam belajar. Ingat, semakin besar ikatan emosional dan rasa tanggung jawab yang dapat mereka rasakan, semakin kuat dampaknya. Ingatlah selalu, keteladanan membangun hubungan, memperbaiki kredibilitas, dan meningkatkan pengaruh.
Berikut ini tradisi yang bisa ditumbuhkan untuk menciptakan rasa kesamaan nilai-nilai, rasa kesepakatan, dan rasa saling memiliki:
• Tepok Wow: Bertepuk tangan serempak diringi musik riang, lalu bertepuk tangan semakin lama semakin cepat. Angkat salah salah satu tangan tinggi-tinggi di udara dan naikkan tangan satunya untuk menepuk tangan tadi sambil berkata, “Woooooow!" Pada tepukan terakhir, musik berhenti, belajar dimulai.
• Lepaskan: Seperti tepuk wow, tetapi katakan, “Lepaskan”, untuk menyela atau mengakhiri jam pelajaran. Musik dimulai pada tepukan terakhir.
• Menepuk Segmen: Mengakhiri segmen belajar tertentu. Anda mengulurkan satu tangan, telapak menghadap ke atas, ambil informasi yang baru saja dipelajari, letakkan pada tangan Anda dan tutup dengan tepukan.
• Integrasikan: Cara lain untuk melakukan penutupan. Jentikkan jari Anda tiga kali, sebutkan afirmasi tentang apa yang baru saja Anda pelajari dan tarik tangan Anda ke arah atas. Tik Tik Tik, “Aku sudah mengerti!”
• Perkenalan: Saat seorang tamu atau orang baru hadir di kelas atau kelompok, maka kelas menyambut orang itu dan memberikan cara khusus memperkenalkan diri. Misalnya setiap orang menyebutkan satu kata sifat yang menggambarkan dirinya, dan lain-lain.
H. Keteladanan
Perilaku seorang dosen lebih penting daripada pengetahuannya. Beberapa pepatah ikut menguatkan, "Tindakan lebih keras daripada kata-kata"; "Kami butuh bukti, bukan janji," dan “Praktikkan apa yang kau khutbahkan”. Semuanya mengacu pada keteladanan (modeling). Mahasiswa sering mencari-cari alasan untuk tidak tertarik: lubang-lubang dalam cerita kita, kontradiksi, ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan dosen. Tetapi, semakin banyak dosen memberi teladan, semakin mereka tertarik dan mulai mencontohnya. Mengapa mereka tertarik? Karena mereka merasakan kesebangunan, kecocokan antara keyakinan dan perkataan dosen dengan perbuatannya.
Memberi teladan adalah salah satu cara ampuh untuk membangun hubungan dan memahami orang lain. Ini juga berarti seorang dosen tak usah terlalu bersusah payah, tetapi dampak untuk mahasiswa tetap lebih kuat. Keteladanan dosen akan menambahkan kekuatan ke dalam pengajarannya.
RANGKUMAN
Sementara kita mengajak mahasiswa ke dalam proses belajar seumur hidup yang dinamis dan tak terlupakan, kita menciptakan suasana prima yang unik bagi mereka, yang membuat mereka merasa aman tapi tertantang, dimengerti, dan dirayakan.
Sejenak bayangkan para mahasiswa Anda: tersenyum penuh dukungan, melihat diri mereka sendiri dinamis dan sukses. Dengarkan para siswa bercerita, berbagi, mengambil risiko, dan merayakan belajar mereka. Rasakan kehangatan mereka memperlunak perlawanan seraya mereka membiarkan teman-temannya berbagi, tertawa, dan merayakan kegembiraan dan ketakjuban belajar.
Bagaimana Anda akan menciptakan suasana seperti itu? Lihat pandangan Anda terhadap kesuksesan mereka yang menjadi kenyataan. Dengarkan diri Anda membangun hubungan, mengakui proses belajar, dan menyelidiki keingintahuan mereka. Rasakan kebanggaan pemberdayaan, kegembiraan dan belajar seumur hidup.


Suasana yang menggairahkan dan
menumbuhkembangkan yang Anda ciptakan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar